Tujuh Belas Ribu Dua Ratus Delapan Puluh hari Mengenalmu
Kamu gak mau tanya gimana perasaan aku waktu lagi sayang-sayangnya ditinggalin?
Atau kamu gak penasaran gimana perasaan aku kamu kasih banyak harapan yang kosong?
sini dulu deh, kamu harus duduk dulu. Terus, nanti kita bicarakan baik-baik.
Tapi nyatanya pertemuan kita singkat, tak selama ekspektasinya.
Sampai akhirnya semua manusia dilahirkan untuk belajar ikhlas dan aku harus ikut andil dalam pelajaran mengikhlaskan.
harusnya kamu paham dari masa ke masa, harapan itu bukan sebuah permainan seperti lompat tali. Kamu anggap remeh dan gampang di tarik ulur. Harapanmu membawaku kesebuah patah hati yang menurutku sangat dalam dan dampaknya sering ku sebut sebagai "luka".
Hari itu seharusnya aku diam, aku tak usah melihat mata yang memiliki sorot mata yang teduh itu.
"Kamu siapa? bisa-bisanya aku penasaran dengan sorot matamu!!"
Sampai saat ini, aku ingat bagaimana cara kita bertemu dan bagaimana cara kita menjadi asing tak saling kenal.
Semua melekat jelas pada kota yang sering ku sebut sebagai ingatan.
Panjang memang menjelaskan bagaimana rasanya jatuh cinta sedalam ini, Apalagi menjelaskan bagaimana dirimu masuk kedalam hidupku.
Bicara mengikhlaskan, jangan kamu sangka itu mudah. butuh ratusan jam aku belajar menguatkan perasaan. Pernah berpikir kalau hal ini bodoh? Pernah memaki kebodohan ini? Semua pernah bahkan aku terlalu keras terhadap diriku kala itu, Bagaimana pun usahanya memaki perasaan atau memaki apapun yang melibatkan rasa, semua terkesan sia-sia sebelum waktunya.
Untukmu yang aku izinkan masuk kedalam ruang dan waktu didalam hidupku. semoga waktu yang berlalu untuk mengenalmu, kini lukanya dapat sembuh dengan sendiri dan belajar memaafkan.
Komentar
Posting Komentar